Senin, 30 Mei 2016

Madrid Berjaya Lagi di Eropa



Real Madrid mengulangi keberhasilan dua tahun silam dengan kembali menaklukkan Atletico Madrid di partai puncak Liga Champion Eropa 2015/16. Laga final musim ini berlangsung di Stadion San Siro Milan pada Sabtu (28/5) malam waktu Italia. El Real mesti memastikan kemenangannya atas Atleti lewat adu penalti 5-3, setelah kedua tim dari ibukota Spanyol itu bermain imbang 1-1 dalam 90 menit plus 2x15 menit masa ekstra. Di waktu normal, Los Blancos lebih dulu unggul melalui gol Sergio Ramos pada menit ke-19. Dua tahun lalu bek yang kini merupakan kapten Madrid itu pun mencetak gol di final di kota Lisbon Portugal.  Gol Yannick Carrasco di menit ke-79 membuat Los Colchoneros menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Tendangan penalti yang gagal dari Antoine Griezmann membuat skor tidak berubah hingga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. 



Tidak seperti final 2014, tiada gol tercipta pada 30 menit masa ekstra. Pada adu tendangan penalti, kelima penendang Madrid mampu sempurna menuntaskan kewajibannya, sementara Juanfran yang merupakan penendang ketiga Atletico tendangannya membentur mistar gawang Keylor Navas. Madrid pun berada di atas angin untuk memenangkan pertandingan. Cristiano Ronaldo sebagai penendang pamungkas kembali memperdaya Jan Oblak dan menjadi penentu keunggulan timnya. Biarpun tidak mampu menambah koleksi golnya saat final (di waktu normal) dan tak mampu menyamai prestasi dua musim lalu (17 gol), CR7 tetap menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champion Eropa 2015/16 dengan 16 golnya. Untuk kelima kalinya Cristiano menjadi penyerang paling tajam di ajang antarklub juara Eropa. Hingga akhir musim ini, pemain Portugal itu pun mencatat rekor sebagai kolektor gol paling subur Liga Champion sepanjang masa dengan total 93 buah gol. Ronaldo kini telah memenangi tiga trofi Liga Champion, sekali bersama Manchester United (2008) dan dua kali bersama Real Madrid (2014 dan 2016). 


Ada sejumlah persamaan dan perbedaan di kubu Los Merengues dalam dua partai puncak antarklub Eropa yang berselang dua tahun. CR7 bersama Dani Carvajal, Sergio Ramos, Luka Modric, Gareth Bale, dan Karim Benzema kembali menghuni tim inti sebagaimana dua tahun lalu. Marcelo yang di final sebelumnya menjadi pemain pengganti turun sebagai starter di final tahun ini. Pepe yang hanya berada di bangku cadangan tempo hari turun penuh di Milan. Sementara Isco selalu bermain sebagai pemain pengganti dalam dua laga final. Sudah tiada lagi nama Iker Casillas, Fabio Coentrao, Sami Khedira, Angel di Maria, dan Alvaro Morata. Nama mereka digantikan oleh Keylor Navas, Casemiro, Toni Kroos, Danilo, dan Lucas Vasquez. Kroos mencatat rekor pribadi sebagai pemain yang pernah dua kali menjuarai Liga Champion bersama dua klub berbeda (Bayern Muenchen 2013 dan Madrid 2016). Jika Diego Siameone masih menjadi pelatih Atletico, maka Zinedine Zidane merupakan pelatih baru Madrid. Dua tahun lalu Zizou menjadi asisten bagi Carlo Ancelotti.


Zidane mengukir sejumlah rekor baru setelah membawa Los Blancos berjaya. Dia berhasil mengangkat Si Kuping Besar sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih Madrid. Zidane pun merupakan pelatih Perancis pertama yang sanggup menjuarai Liga Champion, sebuah prestasi yang lebih baik ketimbang Didier Deschamps (AS Monaco 2004) dan Arsene Wenger (Arsenal 2006) yang pernah membawa timnya tampil di final. Zizou mengikuti jejak Roberto Di Matteo (Chelsea 2012) yang sukses membawa anak asuhnya menjadi kampiun di Eropa, kendati berstatus sebagai pelatih pengganti pada pertengahan musim. Kebetulan keduanya sama-sama berkepala pelontos. 

Ada satu keunikan lagi dari Madrid. Jika dua musim kemarin Los Blancos meraih gelar ke-10 (la decima) tanpa pemain nomor 10, maka ketika mewujudkan gelar ke-11 (la undecima) Liga Champion Eropa, kembali tidak ada pemain nomor 10 yang diturunkan Madrid. James Rodriguez hanya berada di bangku cadangan sepanjang pertandingan. Namun pemain nomor 11 -Gareth Bale- menjadi pemain andalan yang turun penuh dan menjadi salah satu penendang yang sukses dalam babak adu penalti.

Rabu, 25 Mei 2016

Memori : Gelar ke-10 Madrid Tanpa Pemain Nomor 10

Selebrasi Real Madrid ketika menjuara Liga Champion 2013/14.

Real Madrid akhirnya menutup kompetisi antarklub Eropa 2013/14 dengan menjadi juara Liga Champion untuk kesepuluh kalinya. La Decima akhirnya berhasil diejawantahkan oleh Los Blancos besutan Carlo Ancelotti. El Real mengukir sejarah manisnya dengan menang 4-1 atas Atletico Madrid di Estadio da Luz, Lisabon, Portugal pada Sabtu malam (24/5) waktu setempat. Derbi Madrid dalam partai puncak antarklub juara Eropa tersebut berlangsung sangat dramatis.

Los Colchoneros lebih dulu unggul di babak pertama melalui gol sundulan Diego Godin pada menit ke-36. Namun gol sundulan Sergio Ramos mampu membuyarkan kemenangan tim lawan pada menit ke-93. Tim asuhan Diego Simeone cenderung melemah dan tampil antiklimaks di babak perpanjangan waktu. Sementara itu, Cristiano Ronaldo dkk justru terbakar kembali semangatnya bagaikan bangkit dari kematian. Obsesi mewujudkan la decima ternyata masih ada dan belumlah sirna. Tiga gol yang dibuat Gareth Bale (110’), Marcelo (118’), dan CR7 (120’-penalti) pada babak kedua extra time akhirnya memastikan kemenangan Los Merengues atas tim sekotanya.

Berbagai rekor baru pun bermunculan. Real Madrid kian perkasa di Eropa dengan 10 trofi Piala/Liga Champion yang dikoleksinya. Carlo Ancelotti untuk ketiga kalinya menjadi kampiun Liga Champion sebagai pelatih, setelah dua kali sebelumnya diraihnya bersama AC Milan. Pria Italia tersebut juga pernah dua kali menjuarai Piala Champion sebagai pemain Rossoneri. Cristiano Ronaldo menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champion dengan 17 gol yang merupakan rekor baru dalam semusim. CR7 kini mengoleksi total 68 gol (107 laga) dalam daftar top scorer Liga Champion sepanjang masa dan hanya kalah dari Raul Gonzales (71 gol).

Gareth Bale membuktikan bahwa kehadirannya ke Santiago Bernabeu memang tidak percuma. Mantan pemain Tottenham Hotspur itu pun mencetak gol di final Copa del Rey 2014 yang dimenangi Madrid. Iker Casillas sekali lagi menunjukkan kualitasnya sebagai kapten tim kampiun. Casillas telah membawa Spanyol juara Piala Dunia 2010 dan dua kali mengangkat trofi Piala Eropa dalam enam tahun terakhir. Musim ini San Iker memimpin Madrid meraih dua gelar juara. 


Terakhir, ada satu hal yang unik. Los Galacticos ternyata meraih trofi ke-10 di Eropa tanpa pemain bernomor 10. Pada awal musim 2013/14 masih ada Mesut Oezil bermain di sektor tengah, namun ia lantas dijual ke Arsenal, dan kostum nomor 10 Los Blancos pun dibiarkan kosong hingga akhir musim. Meski tidak sebahagia mantan rekan-rekannya di Madrid, Oezil pun bisa tersenyum ceria karena membawa The Gunners menjuarai Piala FA 2014, sekaligus mengakhiri paceklik gelar tim asuhan Arsene Wenger selama sembilan musim.

# pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Mingguan BOLA Edisi 2.564/2014.

Senin, 23 Mei 2016

United Juara Piala FA, Milan Absen di Eropa

Wayne Rooney dan Michael Carrick secara serempak mengangkat Piala FA 2016 (21/5).
Manchester United dan AC Milan memperoleh hasil yang berbeda ketika melakoni partai final Sabtu malam (21/5) akhir pekan lalu. Mesti melewati laga yang berlangsung 120 menit, United akhirnya mampu mengalahkan Crystal Palace 2-1 dan berhak mengangkat Piala FA 2016. Itulah trofi pertama yang diperoleh Red Devils dalam tiga musim terakhir, yakni sejak pensiunnya Sir Alex Ferguson. Wayne Rooney dkk lebih dulu tertinggal 0-1 ketika Jason Puncheon membobol gawang David de Gea pada menit ke-78. Namun tiga menit kemudian, Juan Mata berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, yang bertahan hingga menit ke-90. Menjelang akhir babak I perpanjangan waktu, United mesti bermain dengan 10 pemain setelah Chris Smalling diberi kartu merah. Tapi dewi fortuna rupanya tengah menyertai anak asuh Louis van Gaal. Jesse Lingard yang turun menggantikan Mata menciptakan sebuah gol indah pada menit ke-110 dan menjadi penentu kemenangan United atas Palace. 


Setelah menerima Piala FA dari Pangeran William, Rooney sebagai kapten pertama mengajak serta Michael Carrick, kapten kedua sekaligus pemain paling senior di tim, untuk secara serempak mengangkat trofi yang terakhir diraih MU pada tahun 2004 tersebut. Itulah Piala FA ke-12 yang menjadi koleksi Red Devils dan menyamai rekor milik Arsenal. Bagi Louis van Gaal, Piala FA 2016 menjadi satu-satunya trofi yang dimenangkannya bagi United. Kegagalan lolos ke Liga Champion musim depan dipandang sebagai kegagalan sang pelatih asal Belanda. Jose Mourinho, orang yang pernah menjadi asisten LvG di Barcelona, sudah hampir pasti menjadi manajer MU pada musim 2016/17 mendatang.



Gol tunggal Morata memastikan kekalahan Milan dalam final Piala Italia 2016 (21/5).
Sementara itu, kendati final Piala Italia 2016 mesti melewati perpanjangan waktu pula, Milan akhirnya takluk dari Juventus dengan skor 0-1. Gol tunggal sang pemenang dicetak oleh Alvaro Morata ketika babak perpanjangan waktu tinggal tersisa 12 menit. Tim asuhan Christian Brocchi sebenarnya mampu mengimbangi permainan tim asuhan Massimiliano Allegri. Banyak peluang tercipta, tapi penyelesaian akhir yang buruk dari Carlos Bacca dkk membuat gawang Juventus yang dijaga Neto tetap aman hingga akhir laga. Paulo Dybala dkk pun membuat sejumlah peluang yang berhasil digagalkan Gianluigi Donnarumma hingga skor tetap 0-0 sampai 90 menit berakhir. Beruntunglah Juve yang memiliki materi pemain berkualitas yang lebih merata dan bermental juara. Morata yang baru saja diturunkan pada babak II perpanjangan waktu hanya perlu sedikit waktu untuk menaklukkan Donnarumma dan menjadi penentu kemenangan timnya.


La Vecchia Signora pun mengulangi kesuksesan musim lalu, meraih scudetto dan Coppa Italia di musim yang sama. Sementara nasib buruk rupanya masih enggan pergi dari Rossoneri, yang dipastikan gagal lolos ke Liga Europa musim depan, dan menjadi tahun ketiga absensi di ajang antarklub Eropa. Entah bagaimana kondisi Milan berikutnya masih menjadi teka-teki bagi semua orang, terutama bagi Milanisti seluruh dunia. Barangkali Brocchi pun akan diganti lagi dengan pelatih lainnya atau berapa banyak pemain baru lagi yang akan dihadirkan guna mengangkat status Milan, yang kini layak disebut sebagai tim semenjana, bukan lagi tim kandidat juara. Bagi Silvio Berlusconni dan Adriano Galliani, sudahkah kalian mawas diri sesudah kegagalan kesekian Rossoneri musim ini?

Sabtu, 21 Mei 2016

Kesempatan Terakhir MU dan Milan Meraih Piala


Crystal Palace vs ManUtd berjumpa lagi di final Piala FA.
Dua tim yang memiliki julukan "Setan Merah" -Manchester United dan AC Milan- pada Sabtu malam (21/5) bakal tampil di partai puncak perebutan Piala FA dan Piala Italia musim 2015/16. 
Bagi kedua tim, itulah kesempatan terakhir menjadi juara musim ini setelah kegagalan di kompetisi lainnya yang telah berakhir pekan lalu. 

Final FA Cup akan disiarkan secara langsung di SCTV (21/5/2016, pukul 23.30 WIB), sementara final Coppa Italia dapat disaksikan di Kompas TV (22/5/2016, pukul 01.30 WIB).

Manchester United mengakhiri EPL 2015/16 di nomor lima dan hanya berhak tampil di Liga Europa musim mendatang. Satu kemunduran ketimbang musim lalu yang bisa menempati peringkat keempat, sehingga berhak bermain di Liga Champion, meski gagal lolos ke fase knouck-out dan ketika melanjutkan langkah di Liga Europa pun mentok di babak perempat final. Louis van Gaal barangkali tak lagi menjadi manajer Red Devils musim depan dan menjuarai Piala FA akan menjadikannya memiliki jejak prestasi berupa trofi bagi tim penghuni Old Trafford. Wayne Rooney dkk akan berhadapan dengan Crystal Palace, klub nomor 15 EPL musim ini. Di atas kertas, United lebih diunggulkan menang dan pastilah demikian harapan MU-mania yang belum melihat tim kesayangannya menjadi juara lagi, sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada akhir musim 2012/13.


Ekspresi kegembiraan para pemain Milan yang diharapkan terjadi di final Coppa Italia.
Dalam enam laga terakhirnya di Serie A 2015/16, AC Milan ditangani oleh Cristian Brocchi yang menggantikan Sinisa Mihajlovic yang sudah dianggap gagal sebelum menggenapi musim pertamanya. Brocchi tidak mampu berbuat banyak dan Rossoneri akhirnya hanya mampu bertengger di nomor tujuh klasemen akhir Liga Italia musim ini. Posisi Milan bahkan berada di bawah Sassuolo, yang selama ini menjadi tim semenjana belaka. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Diavolo Rosso mesti absen berlaga di Eropa. Namun pintu sebenarnya masih terbuka karena tim yang bermarkas di San Siro itu bisa lolos ke Liga Europa musim depan jika mampu menjadi juara Coppa Italia. Namun lawan yang dihadapi memang begitu berat. Juventus adalah tim terbaik Italia yang baru saja memastikan scudetto kelimanya secara beruntun musim ini. Massimiliano Allegri, yang pernah membawa Milan juara Serie A 2010/11, tapi kemudian dipecat pada awal tahun 2014, justru berhasil mengantarkan Juventus dua kali meraih scudetto, melanjutkan prestasi mentereng Antonio Conte. Musim lalu tim asuhan Allegri menjuarai Serie A dan Coppa Italia, musim ini prestasi tersebut berpeluang kembali terjadi. Gianluigi  Buffon dkk jelas lebih lebih diunggulkan menang ketimbang Riccardo Montolivo dkk. Tapi kejutan senantiasa mungkin menjadi nyata dalam sepak bola dan hal itulah yang dinantikan Milanisti seluruh dunia. Semoga kita bisa tersenyum riang merasakan sukacita menjelang Minggu pagi datang nanti.

Rabu, 18 Mei 2016

Sepak Bola Indonesia Kembali Terjaga

Setelah lebih dari satu tahun tim nasional sepak bola Indonesia hilang dari peredaran, maka pada paruh kedua tahun 2016 mendatang bakal terlihat para pemain mengenakan kostum merah putih dengan lambang Garuda Pancasila di dada yang kembali membela nama negaranya turun di lapangan hijau. Sanksi bagi PSSI sudah dicabut oleh FIFA dalam kongresnya di Meksiko pada 13 Mei 2016, sehingga organisasi sepak bola Indonesia terjaga lagi dari tidur panjangnya. Namun kasus pidana yang menimpa Ketua Umum PSSI La Nyala Mattaliti menjadi ganjalan tersendiri bagi pelaku sepak bola di tanah air. Gonjang-ganjing tampaknya masih akan berlanjut, meski Menpora Imam Nahrawi sudah tidak lagi membekukan PSSI.  

Yah, setidaknya bukan harapan hampa melihat Boaz Solossa dkk kembali tampil dalam pertandingan internasional di bawah panji Merah-Putih. Piala AFF 2016 yang berlangsung November mendatang menjadi momentum debut Indonesia dalam turnamen antarnegara, setelah absen setahun dan tidak mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019. 

Akhirnya saya mengakhiri puasa saya untuk tidak menulis hal ihwal sepak bola Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun, sejak Imra membekukan PSSI dan berujung turunnya sanksi FIFA pada Mei 2015 lalu. Tentu menjadi hal menarik, siapa yang akan menjadi pelatih timnas, demikian pula siapa saja para pemainnya nanti. Telah mulai berputarnya turnamen panjang ISC A (Torabika Soccer Competition 2016) dan ISC B sejak akhir April lalu menjadi etalase bagi para pemain lokal menunjukkan kemampuannya. 

Yang jelas tugas PSSI tidak sekadar mempersiapkan timnas senior, namun juga berupaya memajukan sepak bola nasional. Mereka yang terbiasa mengurusnya pasti lebih paham mesti melakukan apa saja. Mudah-mudahan tidak ada lagi kisah konflik baru mirip serial sinetron atau telenovela yang ditayangkan saban hari, meski begitulah yang terjadi selama sekitar satu dekade terakhir. Pencinta sepak bola Indonesia sejati pasti lebih suka melihat Evan Dimas mencetak gol indah atau Made Wirawan melakukan penyelamatan spektakuler. Tak perlu berharap timnas juara dahulu, yang penting Tim Merah-Putih eksis lagi pun sudah cukup menggembirakan.

Senin, 16 Mei 2016

Memori : Sukses AC Milan Meraih Scudetto ke-18

AC Milan ketika menjadi juara Serie A 2010/11.

AC Milan sudah memastikan scudetto ke-18 dalam sejarah klub tersebut pada giornata ke-36 musim 2010/11 ketika bermain imbang dengan AS Roma 0-0 di Olimpico (7/5). Penyerahan trofi juara Serie A telah dilakukan pada giornata ke-37 dengan hasil kemenangan Milan atas Cagliari 4-1 di San Siro (14/5). Rossoneri terakhir kali juara Liga Italia pada musim 2003/04 dan meraih trofi Liga Champion, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Klub pada tahun 2007. Sudah sekian musim Milan mengalami puasa gelar, sehingga kesuksesan menjadi juara Italia disambut dengan sangat suka cita oleh Tim Merah Hitam beserta Milanisti di seluruh dunia. Massimilano Allegri sebagai pelatih merupakan kunci utama keberhasilan Milan musim ini. Adriano Galliani yang mampu menghadirkan sejumlah pemain baru, seperti : Zlatan Ibrahiovic, Robinho, Kevin-Prince Boateng, Mark van Bommel, dan Antonio Cassano juga layak dipuji kiprahnya. Sinergi apik sang pelatih dengan semua pemain –lama maupun baru- menghasilkan sesuatu yang konkrit dan positif, yaitu scudetto.

Salah satu kehebatan Allegri adalah kecerdasannya memanfaatkan materi pemain yang dimilikinya dengan skema yang tepat. Musim ini Milan tampak tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap sejumlah nama seperti beberapa musim sebelumnya. Pada paruh musim pertama, seakan sempat terjadi dependensi pada sosok Ibra, tapi ketika Ibra absen, nyatanya Clarence Seedorf dkk tetap meraih kemenangan. Demikian pula ketika Alessandro Nesta atau Andrea Pirlo absen –yang di masa lalu bisa menjadi masalah besar- tak lagi menjadi kendala, lantaran selalu ada solusi alternatif dari Allegri. Bahkan Ronaldinho akhirnya dilepas Milan dengan ringan hati di pertengahan musim dan Pirlo juga siap dijual karena perannya tak lagi signifikan seperti dulu. Selain hadirnya pemain anyar, pemain lawas Milan juga tetap besar peranannya. Senioritas Christian Abbiati, Alessandro Nesta, Gianluca Zambrotta, Genaro Gattuso, dan Clarence Seedorf, yang diimbangi dengan semakin matangnya permainan Thiago Silva dan Pato, mampu bersatu padu dengan Robinho, Ibrahimovic, Prince, Mark van Bommel, dan Antonio Cassano.


Satu hal yang unik dari Rossoneri musim ini adalah jabatan kapten tim yang tidak hanya dimonopoli oleh seorang pemain. Selain Massimo Ambrosini sebagai kapten pertama, tercatat ada nama Gattuso, Pirlo, Seedorf, dan Nesta yang juga pernah menjadi kapten Milan. Kendati berganti-ganti pemimpin di lapangan, namun tak ada masalah dengan skema permainan Milan. Jika ada hal yang patut disayangkan barangkali adalah kandasnya Milan di tangan Tottenham Hotspur di perdelapan final Liga Champion dan keoknya Milan dari Palermo di semifinal Piala Italia. Agar sukses musim ini bisa berlanjut musim depan, sejumlah pemain senior mungkin tidak diperpanjang kontraknya dan peremajaan pemain di San Siro mesti digiatkan lagi. Thiago Silva (27), Ignazio Abate (25), Alexander Merkel (19), Prince (24), Robinho (27), dan Pato (22) memerlukan lebih banyak teman sebaya agar skuad Milan lebih segar dan kompetitif.

#pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com pada Mei 2011.

Sabtu, 14 Mei 2016

Final Liga Spanyol 2015/16 di Pekan Terakhir

Perebutan gelar juara La Liga 2015/16 antara Barca dan Madrid ditentukan di laga pekan pamungkas.  

Sebelum el clasico yang berlangsung awal April 2016, barangkali tidak ada yang membayangkan bahwa Real Madrid masih berpeluang menjadi juara Liga Primera Spanyol musim 2015/16. Saat itu Barcelona begitu gagah memimpin klasemen dengan keunggulan poin sembilan dan sepuluh di atas Atletico Madrid dan El Real. Bahkan Zinedine Zidane selaku manajer Los Blancos sudah lebih dulu mengibarkan bendera putih sehabis timnya ditaklukkan oleh Los Rojiblancos, beberapa pekan sebelum el clasico. Namun terjadi sesuatu yang tak terduga. Setelah dikalahkan Madrid 1-2, tim besutan Luis Enrique justru menuai hasil buruk secara beruntun, sementara Atletico maupun Los Merengues konsisten meraih kemenangan. 

Lionel Messi dkk memang akhirnya mampu bangkit dan kembali menundukkan lawan-lawannya dengan skor telak, namun koleksi poin kedua tim di bawahnya sudah telanjur menipis, bahkan tim asuhan Diego Simeone mampu menyamai poin El Barca.  Hingga jornada 36, Barca dan Atletico mengumpulkan poin yang sama (85) dan Madrid di peringkat ketiga dengan poin 84. Persaingan menjadi kampiun masih berlangsung di antara ketiga tim. Perubahan terjadi pada jornada 37, tatkala Azulgrana dan Los Blancos melanjutkan kemenangannya, sementara Los Colchoneros justru takluk dari Levante. Peluang Fernando Torres dkk menjuarai Liga Spanyol musim ini pun pupus. Perebutan gelar tinggal menjadi milik Barcelona (88) dan Real Madrid (87) yang hanya berselisih satu poin, sebelum menjalani laga pamungkas 2015/16.

Maka jornada 38 yang dimainkan Sabtu, 14 Mei 2016, benar-benar menjadi pertandingan final untuk menentukan siapa sejatinya tim terbaik di negeri matador tahun ini. Barca tetap berada di atas angin untuk mempertahankan gelarnya karena bermain tandang menghadapi Granada, tim peringkat ke-16. Kemenangan bukan hal yang sulit diraih Lionel Messi dkk mengingat reputasi kedua tim dan tren positifnya akhir-akhir ini. Sementara itu Cristiano Ronaldo dkk menjalani laga tandang melawan Deportivo La Coruna, tim peringkat ke-13. Menang dengan skor berapa pun tidak akan membuat Los Merengues menjadi jawara sekiranya tim besutan Luis Enrique mampu mengalahkan Granada. Kemenangan Madrid atas La Coruna menjadi berarti hanya jika Granada berhasil menggagalkan Barca meraih poin tiga, setidaknya menahan imbang sang juara bertahan.

Para pencinta Real Madrid sungguh berharap hadirnya keajaiban yang membuat Zizou meraih trofi perdananya sebagai seorang pelatih. Harapan mesti terus dinyalakan. Namun seandainya pun gagal membawa Los Blancos menjuarai Liga Spanyol musim ini, pujian tetap layak diberikan. Konsistensi permainan Madrid sejak ditangani Zidane membuat persaingan merebut gelar juara La Liga dapat berlangsung seru hingga pekan terakhir. Dan jangan lupa bahwa masih ada kesempatan mewujudkan trofi ke-11 Liga Champion Eropa pada 28 Mei 2016 mendatang. Caranya tentu saja adalah dengan mengandaskan Atletico Madrid di San Siro Milan.

Minggu, 08 Mei 2016

Memori : Kejutan Besar Los Blancos di Muenchen


Real Madrid benar-benar membuat kejutan besar ketika bertandang ke Fussball Arena pada Selasa (29/4). Tuan rumah Bayern Muenchen, yang diperkirakan mampu membalas kekalahan 0-1 pada semifinal pertama, justru kalah 0-4 dan mesti menanggung malu di depan publiknya sendiri.
Tampaknya kepercayaan diri dan optimisme berlebihan membuat tim besutan Pep Guardiola cenderung meremehkan tim asuhan Carlo Ancelotti. Bisa jadi Pep terbuai catatan gemilangnya saat menukangi Barcelona menghadapi Madrid. Dia lupa kini menangani Muenchen, lalu ada pula sosok Don Carletto di Los Merengues musim ini. Mantan pelatih AC Milan dan Chelsea itu terkenal jago strategi sebagaimana pelatih top Italia lainnya, apalagi ada sosok Zinedine Zidane yang menemaninya di bangku cadangan. Alhasil, Sergio Ramos dan Cristiano Ronaldo mencetak masing-masing dua gol serta berhasil menghukum Phillip Lahm dkk.

Los Blancos berhasil lolos ke final Liga Champion pertamanya sejak 2002 (terakhir kali juara) dan kian dekat mengejawantahkan La Decima. Sementara itu Die Roten dipastikan gagal memertahankan trofinya di Eropa dan mustahil mengulangi prestasi treble winner musim lalu.
Dengan sepasang golnya ke gawang Manuel Neuer, CR7 sukses mengukir rekor sebagai pencetak gol terbanyak Liga Champion 2013/14 dengan 16 gol hingga semifinal. Sementara itu Ramos mencatat rekor unik pula. Ketika Madrid menang 4-0 atas Osasuna pada laga Liga Spanyol Sabtu (26/4), bek Spanyol itu pun menyumbang satu gol.

Sebelum sampai di partai puncak yang berlangsung di Lisabon Portugal pada Mei mendatang, El Real sukses menyisihkan tiga klub Jerman, yaitu Schalke 04 (perdelapan final), Borussia Dortmund (perempat final), dan Bayern Muenchen (semifinal). Dortmund dan Muenchen merupakan tim yang menghentikan langkah Madrid di semifinal dalam dua musim kemarin. Kemenangan atas kedua tim itu musim ini merupakan pembalasan yang manis dari Los Galacticos.
Real Madrid masih menyisakan satu partai terpentingnya musim ini demi meraih trofi Liga Champion ke-10. Mudah-mudahan kemenangan besar atas Bayern bukanlah penampilan klimaks CR7 dkk karena Si Kuping Besar belum pasti berada di tangan kapten Iker Casillas. Buena suerte, Los Blancos!

* pernah dimuat di loushevaon7.wordpress.com dan Harian BOLA Jumat, 2 Mei 2014.